Jumat, 18 November 2011

BAKARA NAULI

 
         Bakara merupakan sebuah lembah datar ditepian Danau Toba seluas ratusan hektare. Sebuah kampung yang penuh pesona dengan wisata alam dan budaya yang tersohor hingga ke negeri lain. Wilayah administratifnya di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan. wilayah ini dulunya masuk dalam kawasan Kecamatan Muara.
        Lembah yang berjarak belasan kilometer dari Dolok Sanggul (Ibu Kota Humbang Hasundutan) itu terdiri dari beberapa desa dan dusun yaitu Siunong-unong Julu, Simamora, Sionggang, Sinambela, Marbun Dolok, Marbun Tonga, Marbun Toruan, Simangulampe dan Tipang. Dibelah oleh dua aliran sungai besar yang berair deras. Sungai terbesar yang dominan adalah Aek Silang yang bersumber dari air terjun yang tercurah dari bentangan perbukitan. Sungai kedua yang lebih kecil bernama Aek Simangira. Keduanya mengaliri beberapa desa dan bermuara di Danau Toba.
        Uniknya, kedua sungai ini dengan mudah bisa dikenali dari warna air yang terlihat. Aek Silang berair coklat kemerahan. Warna yang terbias dari dasar sungai yang bertanah liat coklat dan lelumut kecoklatan. Sementara Aek Simangira warnanya cenderung putih, karena dasarnya yang berpasir tertutupi bebatuan kali.
Kedua sungai ini adalah sumber air utama bagi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus warga di seluruh lembah Bakara. Namun ada juga sekian rumah yang memanfaatkan sumur dan air tanah sebagai penyedia air minum.
Relief bukit, sungai, dan hamparan Danau Toba menawarkan alam asri nan indah di lembah Bakara. Ada banyak alternatif tempat dengan lanskape pemandangan mempesona yang bisa dinikmati dari sini.
Panorama Alam
 
Suhu di lembah Bakara relatif dingin dan sejuk sepanjang hari, dengan tebaran banyak mata air (mual). Mata air utama yang terbesar adalah Aek Sitio-tio yang berada di Desa Siunong-unong Julu. Lokasinya persis di tepian sungai serta disekitar Mual ini terdapat 3 Pohon Raksasa Hariara.
Tempat pemandian alam yang dulunya berupa telaga kecil itu bersumber dari mata air “abadi” yang airnya tak pernah kotor dan didalam Mual ini terdapat ikan pora-pora. Sepanjang tahun selalu bersih, jernih, dan dingin. Lokasi itu kini menjadi sumber air utama bagi warga sekitar untuk kebutuhan minum dan mandi.
Kejernihan dan kesejukan Aek Sitio-tio selalu “memanggil” pengunjung untuk berendam di sana. Rugi rasanya jika tidak mencoba telaga yang dulu pernah jadi tempat istirahat favorit tentara Belanda masa kolonial.
Selain telaga, di Bakara juga banyak ditemui air terjun. Hampir si setiap penjuru terhampar air terjun besar maupun kecil. Semuanya punya kekhasan tersendiri. Namun yang paling dikenal sebagai obyek wisata adalah Aek Sipangolu.
 
        Aek Sipangolu adalah air terjun yang dipercaya sebagai air suci yang mengandung unsur dasar perawat kehidupan. Penduduk sekitar sejak dulu kala percaya air tersebut bisa menjadi “obat” bagi banyak kebutuhan.
       Para pengunjung yang ingin merasakan sejuknya air terjun ini, ada tempat pemandian umum. Sumber airnya langsung berasal dari aliran Aek Sipangolu. Atau yang ingin membawa pulang airnya, boleh juga. Ada jerigen yang disediakan di dekat lokasi air terjun tersebut, khusus untuk pengunjung yang ingin membawa air Aek Sipangolu sebagai oleh-oleh.
       Dari pinggiran aliran air terjun ini, kita bisa melahap pemandangan danau toba dari sisi yang lain. Atau boleh juga beristirahat sambil minum kopi atau teh dari warung sederhana yang dikelola penduduk lokal.
Wisata Budaya
      Lembah Bakara cukup subur dan menjanjikan hasil panen yang baik untuk tanaman padi, bawang, dan palawija. Sejak dulu Lembah Bakara sudah dikenal bahkan tersohor sampai ke Negeri Belanda, sebagai lembah eksotis yang menyimpan muatan sejarah dan budaya.
Bakara sendiri merupakan pusat pemerintahan Sisingamangaraja I – XII, persisnya di Desa Lumbanraja.
Sejak pemerintahan Sisingamangaraja ini, adat dan budaya Batak semakin mengental karena sang raja yang kharismatik menyebarkan ajaran kebaikan dan kebajikan yang berakar dari adat istiadat Batak. Sisingamangaraja menjadi teladan dan panutan raja-raja Batak di sekitarnya. Sehingga ia dianggap sebagai raja dari segala raja dalam bidang moral.
 
Kompleks istana kerajaan Sisingamangaraja di Lumbanraja, yang terdiri dari deretan empat Ruma Bolon masih bisa dilihat hingga kini. Pada Desember tahun lalu, proyek renovasi situs Sisingamangaraja tersebut rampung dikerjakan. Proyek APBD 2005 yang dimulai sejak 26 September 2005 itu merenovasi ulang tiga deretan bangunan utama istana.
Bangunan yang direnovasi berkalali-kali sejak puluhan tahun lalu itu, bukan lagi bangunan asli. Bangunan asli udah dibumihanguskan pada masa Perang Batak berkecamuk (1877 – 1907) melawan tentara Kolonial Belanda.
Kemudian di dalam kompleks istana persis di halaman depan deretan Ruma Bolon, terdapat sembuah makam berupa bangunan persegi panjang yang terbuat dari semen yang dilengkapi ornamen Batak, ukiran bendera kerajaan Sisingamangaraja, cap (stempel) Sisingamangaraja, dan sebuah prasasti beraksara Batak Toba.
Lalu di persis di luar kompleks yang dipagar keliling dengan batu dan besi itu, masih bisa ditemukan satu situs yang unik. Namanya Batu Siungkap-ungkapon. Situs batu berdiameter 80-an cm ini konon dulunya digunakan dalam ritual untuk meramal dan memprediksi hal-hal yang sangat penting, terutama dalam bidang pertanian.
           Mengunjungi Bakara, Anda bukan saja bia menikmati keindahan alam, sejuknya udara, dan suasana pedesaan yang asli, tapi juga bisa melihat situs sejarah yang sangat penting dalam sejarah kerajaan Batak menentang Kolonial Belanda di masa lalu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar